Rabu, 20 Maret 2013

Pers mahasiswa dinilai lemah

Pers mahasiswa dinilai lemah


Pers kampus saat ini cenderung kurang diminati oleh mahasiswa kampusnya sendiri. Berbeda jika dibandingkan dengan pers mahasiswa pada tahun 30-70an. Pers sekarang boleh dibilang hanya menang pada fisiknya saja bentuk dan kertasnya yang halus. Pers mahasiswa saat ini juga cenderung tidak memiliki antusiasme untuk melakukan penerbitan yang teratur dikampus.
            Pada tahun 30an terdapat banyak penerbitan pers mahasiswa yang bisa berfungsi sebagai terompet kebangkitan nasionalisme indonesia. Demikian juga jika kita mau menengok pada masa 70an. Universitas ternama dengan pers mahasiswanya yang sudah cukup dikenal seperti UGM dengan Gelora Mahasiswa, UI dengan Salemba, ITB Kampus, dan lain-lain yang berfungsi sebagai terompet idealisme mahasiswa walau akhirnya dibredel pemerintah juga.

            Tulisan ini tidaklah bermaksud mengecilkan arti penting dari pers mahasiswa, tapi ini hanyalah catatan untuk sekedar melihat kecenderungan yang ada berhubung adanya pergeseran tuntuntan dari mahasiswa sendiri. Mungkin memang tidak boleh disalahkan juga jika pers mahasiswa kurang mendapat sambutan hangat dari mahasiswa kampusnya sendiri. Dari sekian banyak mahasiswa, hanya sebagian kecil saja yang membaca terbitan pers mahasiswa dan menyisakan banyak terbitan yang tidak terjual sebelum akhirnya siap menjadi rongsokan yang menumpuk di gudang atau juga dimanfaatkan untuk bukti diri meminta bantuan kepada para almamater yang kini telah menjadi “orang”. Siklus yang tidak memadai antara jerih payah penerbitan pers mahasiswa dengan respon dari mahasiswa itu sendiri yang menyebabkan pers mahasiswa menjadi sukar mempunyai kemandirian dan profesionalisme, bahkan periodesitas penerbitan pun menjadi tidak sesuai dengan yang dijanjikan, yang awalnya dijanjikan terbit setiap bulannya akhirnya malah terbit setiap enam bulan sekali dan ketika terbit lagi orang-orang persnya sendiri sudah berbeda lagi dengan orang-orang pers penerbitan sebelumnya.
            Kini pers mahasiswa telah bergeser orientasinya maupun eksistensinya. Mereka cenderung berubah menjadi sebuah lembaga dalam arti luas yang banyak mencari bakat dan menyalurkan minat mahasiswa. Sehingga pernerbitan pers mahasiswa hanya dapat dilakukan enam bulan sekali, tapi sebagai lembaga kemahasiswaan yang katakanlah semi formal banyak melakukan aktivitas diluar penerbitan seperti lomba karya ilmiah, seminar, pelatihan kejurnalistikan, dan lain-lain. Ini akan menjadi pembahasan menarik dan menimbulakan pertanyaan, apakah pers mahasiswa kuarang mampu melakukan penerbitan sehingga orientasinya bergeser menjadi lembaga, ataukah adaptasi mahasiswa yang perlu di dekatkan dulu dengan aktivitas lain diluar penerbitan sebelum akhirnya melakukan penerbitan setelah enam bulan?
            Ada baiknya juga para pengelola pers mahasiswa itu sendiri mencoba untuk meneliti lebih jauh, apa yang mahasiswa inginkan dari terbitan pers mahasiswa, pikirkan juga isi yang kiranya relevan yang dibutuhkan mahasiswa?. Pers mahasiswa juga harus sedikit mencoba hal yang baru dan unik dengan terbitannya, seperti pada tahun 20-40an pers mahasiswa yang menjadi terompet kebangkitan nasional dan sekitar tahun 60an menjadi pendamping cita-cita kebangkitan orde baru maka tahun ini pers mahsiswa juga sedikitnya harus mempunyai ciri realitas yang sama dengan tahun-tahun lalu.
sumber : http://alfarisisalman92.blogspot.com/2011/10/pers-mahasiswa-dinilai-lemah.html
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar